Rabu, 25 Desember 2013

Cerpenku "Kebersamaan di Hari Raya Kurban"

  Waktu sudah menunjukkan pukul 04:30, ku dengar suara adzan  subuh yang begitu indah, membuatku terkesima. Hati ini pun menjadi tenang dan damai tatkala adzan berkumandang menandakan waktu sholat untuk beribadah kepada Allah SWT telah tiba. Aku pun mencoba membuka mata dan bangkit, beranjak melangkahkan kaki untuk mengambil wudhu. Setelah selesai, aku mengenakan mukena untuk sholat guna menutup auratku.
Ketika aku membuka jendela kamarku, kulihat matahari mulai menampakkan dirinya. Orang-orang mulai berlalu lalang, melakukan ektifitas mereka masing-masing. Sedangkan aku masih duduk diam sembari menikmati suasana pagi dengan udara yang begitu segar untuk ku hirup. Aku melamun sejenak, membayangkan betapa besar kekuasaan Allah SWT.
Hari ini kuliahku libur, dikarenakan besok akan memyambut hari raya besar bagi umat muslim. Ada perasaan senang dan juga sedih. Karena aku harus merayakannya tanpa kedua orang tuaku, karena jarak yang sangat jauh. Dan hanya tinggal sendirian dikontrakan, begitu lengkap rasanya. Aku mencoba menghubungi adik kelasku waktu itu. Untuk mengajaknya menginap dikontrakanku.
“Ega kamu mau tidur dikontrakanku, nggak?,” tanyaku sambil menunggu jawaban.
“Iya deh mba, aku juga sendirian ne dikosan yang lain pada mudik,’’ Ega pun menyetujui permintaanku.
“Ok,” jawabku sambil tersenyum senang.
“Oo..ya mba nanti jemput aku jam berapa?,’’ Tanya Ega padaku.
“Nanti sore ya, habis ashar aja,” jawabku singkat, dan aku pun menutup teleponku.
Waktu berjalan sangat cepat. Jam pun sudah menunjukkan pukul 15:30, aku pun segera menjemput Ega. Jalanan begitu ramai ditambah dengan polusi udara yang membuatku sulit untuk bernafas. Setibanya dikosan Ega aku mengobrol sebentar.
“Udah lama mba nunggu?” tanyanya sedikit cemas.
Nggak kok, baru aja aku nyampe,” jawabku sambil memperbaiki jilbabku.
Gitu ya mba, ya udah sekarang langsung kekontrakan mba ne?’
“Iya, aku males mau kemana-mana?” sambil memakai helm dan menyalakan motorku.
Malam terasa sepi, dikontrakan hanya ada aku dan adik kelasku. Terdengar takbir dilantunkan dimana-mana, menyambut bahagia datangnya hari raya Idul Adha. Aku terdiam disaat memikirkan orang tuaku yang jauh disana. Aku begitu merindukan kedua orang tuaku. Beginilah nasib anak perantaun.
Ketika itu Novi menghubungiku bahwa besok akan ada perkumpulan anak-anak Kobar. Itu adalah nama kabupatenku di Kota Manis Pangkalan Bun.
“jul besok datang yak keasrama Kobar,” katanya penuh harapan.
“Insyaallah ya, emang ada acara apaan dan mulai jam berapa acaranya?” kataku penuh tanya.
Cuma kumpul-kumpul aja kok, ya merayakan hari raya bareng, acaranya jam 10:00 a.m,” jelas Novi padaku dan berharap aku datang.
“Iya deh besok aku usahain datang,”
“Ok. Aku tunggu,”
Hari semakin malam, nampak diluar sudah mulai gelap. Aku pun mengistirahatkan tubuh ini diatas kasur. Menunggu esok hari tiba. Menantikan suasana yang nantinya menyenangkan. Sambil membaca doa mata ini pun mulai menutup. Dan tidak terasa aku pun terlelap.
Pagi pun tiba, terdengar suara takbir yang menggema membuatku terbangun dari tidur nyenyakku. Aku pun terbangun dan masih sedikit mengantuk. Aku bangkit dari tempat tidurku, dan aku langkahkan kaki ini menuju kamar mandi.
Aku merasakan pagi ini adalah pagi yang begitu indah, walau aku merasa sedikit sedih. Kubuka pintu, kulihat orang-orang ramai berlalu lalang. Dengan baju muslimah dan membawa sajadah, mereka berjalan menuju masjid.
Saat aku duduk diantara orang-orang dan disaat aku melantunkan takbir. Air mata ini mengalir begitu saja, seakan tak terbendung lagi. Semakin aku lantunkan semakin aku menangis. Aku teringat akan kedua orang tua ku yang jauh disana. Aku mencoba untuk kuat.
Ketika sholat sudah usai, aku beristirahat sejenak bersama Ega.
Mba jadi ke asrama putra Kobar nggak ne?” tanya Ega
“Jadi kok, istirahat bentar dan makan dulu,” jelasku
“Ok. Deh,”jawab Ega
Tidak berapa lama, aku dan Ega berangkat menuju asrama putra Kobar. Kami berdua sempat bingung mencari asramanya. Karena itu kali pertama kami berdua kesana. Dari kejauhan aku melihat sepupuku menjemputku di perempatan. Dia menunjukkan jalan menuju asrama, jalannya begitu rumit untuk dihafal. Akhirnya kami pun tiba juga di asrama. Ketika aku sampai orang-orang sudah banyak berdatangan. Mereka temanku satu daerah walaupun universitas kita berbeda-beda. Disana kita saling berkenalan satu sama lain, saling menyapa, saling bertanya soal kuliah dan lain-lain. Aku berbincang-bincang sebentar sebelum acara dimulai. Ada seseorang yang bertanya padaku namanya itu Ardian.
“Namanya siapa, alumni sekolah mana,” tanya bang Ardian.
“ Namaku Julie, aku alumni SMA Negeri 2 Pangkalan Bun,” jelasku padanya.
“Iya kah, beda sekolah berarti kita, aku alumni SMA Negeri 1 Pangkalan Bun, sekarang kuliah dimana, semester berapa?”
“Aku kuliah di Universitas Ahmad Dahlan, semester 3,” jelasku sedikit deg-degan sambil melihat dia.
ngambil jurusan apa?” tanyanya lagi.
“jurusan pendidikan matematika bang,” jawabku singkat.
“iya kah, wah penuh rumus berarti,” ejeknya
hmm..iya begitulah,” kataku sambil tersenyum kecil.
Tiba saatnya acara dimulai. Pertama dibuka oleh kak Indah selaku pembawa acara dan menjelaskan urutan acaranya. Kemudian sambutan oleh bang Ardian selaku ketua. Dia menjelaskan diadakannya perkumpulan tersebut. Sekaligus bercerita soal budaya, bahasa, bahkan sampai makanan khas Kobar.
Waktu itu bang Ardian tepat duduk dihadapanku. Pertama kali bertemu dia, orangnya baik, bijaksana, dewasa, penampilannya rapi, sopan, ramah dan sholeh. Seorang imam yang aku impikan, bukan hanya aku mungkin untuk semua wanita. Perasaanku semakin tidak karuan tapi aku tidak menampakkan wajah yang memalukan dihadapannya. Aku bersikap biasa-biasa saja.
Kemudian acara tersebut diisi juga dengan ceramah tentang hari raya Idul Adha yang dikenal dengan hari raya kurban. Tidak hanya itu, tapi juga menyinggung tentang busana wanita menurut agama islam bahkan larangan-larangan menurut agama islam. Setelah itu ada permainan yang dibuat oleh kak Indah dan bang Ardian yaitu perkenalan antar dua orang. Bang Ardian pun menjelaskan caranya.
nah aku bakal ngejelasin caranya, perkenalannya dimulai dari ujung  n’tar kalian saling tanya sama teman yang ada dihadapan kalian, kalian bebas mau tanya apa aja, gimana ngerti nggak??? Bang Ardian menjelaskan dengan sangat detail.
“iya ngerti” jawab teman-teman semua secara bersamaan.
“ya udah kalau gitu kita mulai aja dari sekarang permainannya,” kata bang Ardian sambil memulai permainannya.
Setelah beberapa menit berselang, waktu dzuhur pun tiba. Selagi menunggu adzan selesai kami pun beristirahat sebentar sebelum menunaikan sholat. Kemudian acara selanjutnya yaitu makan-makan, sebelum itu bang Ardian memberitahu kami bahwa didalam kotak makanan itu ada sedikit kejutan untuk kita. Aku merasa penasaran kemudian aku buka ternyata berisi sebuah gantungan yang bernamakan nama himpunan organisasi dari kabupatenku.
nah silahkan makanannya langsung dimakan aja,” suruh bang Ardian
“sering-sering aja bang ngadain acara kayak gini, biar bisa kumpul-kumpul,” celetuk bang Indra.
“iya deh, n’tar kita cari hari lain lagi, sekiranya pada bisa semua,” bang Ardian pun menyetujuinya.
Kemudian masuk dipuncak acaranya yaitu sesi bertukar pendapat atau sharing bersama. Pertama dimulai oleh bang Ardian.
gini aku mau sedikit sharing sama kalian semua soal organisasi ini sebagai ketua disini. Kita kan udah ngadain banyak acara diluar kayak pertujukan tarian, pengenalan budaya Kalimantan Tengah, sampai makanan khas Kalteng khususnya kota angkalan Bun. Nah aku pengen kalian ikut partisipasinya dalam organisasi ini, kalau mau kalian tinggal nulis ditwitter buka aja IKPM Kobar n’tar kalian bisa tanya-tanya disitu lebih jelasnya,” jelasnya sambil menunjukkan contoh kartu anggota IKPM Kobar.
nah aku pengen tanya, setiap menjalankan organisasi kan kita butuh banyak dana, apalagi dengan banyaknya kegiatan, nah itu gimana solusinya,” tanya Angga.
“iya emang benar, kami cari dananya itu dari kita jualan misalnya soto manggala, jualan baju khas Kalteng, bahkan aksesoris yang lain, yah itu lumayan lah buat menanggung biaya asrama sama kegiatan-kegiatan, nggak hanya itu kita juga punya donator,” jelasnya bang Ardian
“tapi kan kalau cuma kayak gitu aja hasilnya nggak optimal,” ucap Angga dengan penuh pertanyaan.
“maka dari itu aku butuh bantuan dan kerja sama dari kalian semua buat bantu kita mempertahankan organisasi ini,” jelas bang Ardian dengan penuh harap.
Setelah saling berdebat cukup panjang, akhirnya bang Indra angkat bicara.
gini, kita itu jangan terlalu berharap sama donator aja. Kita bisa buat acara yang lain yang lebih menarik, beda dari pada yang lain. Kalau mau cari dana jangan setengah-setengah. Dan jangan terlalu mikirin banyak konsep buat ngelaksanainnya, langsung terjun aja kelapangan, kalau menurutku gitu bah,” jelas bang Indra sambil memberikan nasehatnya.
“iya bang, n’tar bakal kita coba,” ucap bang Ardian.
nah aku mau nambah lagi, kalau kumpul-kumpul lagi. Buat acaranya lebih menarik buat suasana lebih akrab jangan hanya diam-diam apalagi malu-malu. Kita kan sama-sama satu daerah jadi biasa aja. Kita kan kumpul-kumpul kayak gini biar saling ngenal nggak canggung bah,” kata bang Indra.
“iya, nah silahkan buat teman-teman sekalian untuk berpendapat nggak usah tegang santai aja, kita buat acara ini kan biar lebih dekat lagi, kalau ada yang sakit atau butuh bantuan bilang aja n’tar kita usahain buat bantu,” tambah bang Ardian.
Suasana makin seru ditambah dengan gurauan yang dibuat oleh teman-teman, ada yang saling mengejek, menggoda, bahkan kata-kata yang lucu pun keluar dengan bahasa daerah kita. Rasanya menyenangkan sekali bisa berkumpul seperti ini, sudah seperti keluarga besar. Hari sudah semakin sore bang Ardian pun menutup acara hari ini.
“berhubung hari udah semakin sore, acaranya cukup sampai sini aja lain kali, besok kita buat acara kayak gini lagi, mohon partisipasi dari teman sekalian. Terima kasih udah datang buat meramaikan acara hari ini, maaf jika banyak kekurangannya,” kata bang Ardian sambil menutup acara.
Kemudian bang Ardian menyuruh kita untuk foto-foto dulu sebelum pulang.
nah sebelum pulang kita foto-foto dulu buat kenang-kenangan,” ajak bang Ardian
Kami pun foto-foto sebentar sebelum pulang dengan berbagai gaya. Dan aku pun pamit untuk pulang.
bang aku pulang lah,” pamitku.
“iya hati-hatilah, main-main lagi lah ke asrama,” kata bang Ardian
Sungguh hari yang tidak akan terlupakan aku bertemu dengan banyak teman, saling mengenal, bahkan bertemu dengan seseorang yang begitu mengagumkan buatku, walau itu hanya sebentar saja. Walaupun hari raya kurban ini jauh dari orang tua setidaknya aku bisa berkumpul bersama teman-teman satu daerah itu sudah lebih dari cukup buatku.







1 komentar: