1. Jangan menyalahkan diri sendiri
2. Berhenti Mendengarkan Lagu Berirama Sedih/Galau
3. Memahami bahwa segala ujian merupakan tingkat kenaikan level
4. Hadapi, Jangan dihindari
5. Merasalah beruntung
6. Perbanyak sharing dan bergaul dengan teman
7. Perbanyak Ibadah dan Berdo’a kepada Tuhan
8. Perbanyak melakukan/menyibukan diri dengan aktivitas yang bisa menghiburmu
9. Jika masih tidak bisa cobalah ke psikolog atau hipnoterapis
10. Buatlah pilihan mencari lagi atau berhenti lagi.
desi milasari
Kamis, 26 Desember 2013
7 Tanda Cinta Sejati
1. Ia Sahabat Terbaik Anda
2. Punya Banyak Kesamaan
3. Kepentingan Anda adalah Segalanya
4. Cinta tak Beryarat
5. Mau Mendengarkan
6. Always On Time
7. Kontak Batin
katanya mbah google si gitu..
2. Punya Banyak Kesamaan
3. Kepentingan Anda adalah Segalanya
4. Cinta tak Beryarat
5. Mau Mendengarkan
6. Always On Time
7. Kontak Batin
katanya mbah google si gitu..
Rabu, 25 Desember 2013
Cerpenku "Kebersamaan di Hari Raya Kurban"
Waktu
sudah menunjukkan pukul 04:30, ku dengar suara adzan subuh yang begitu indah, membuatku terkesima.
Hati ini pun menjadi tenang dan damai tatkala adzan berkumandang menandakan
waktu sholat untuk beribadah kepada Allah SWT telah tiba. Aku pun mencoba
membuka mata dan bangkit, beranjak melangkahkan kaki untuk mengambil wudhu.
Setelah selesai, aku mengenakan mukena untuk sholat guna menutup auratku.
Ketika
aku membuka jendela kamarku, kulihat matahari mulai menampakkan dirinya.
Orang-orang mulai berlalu lalang, melakukan ektifitas mereka masing-masing.
Sedangkan aku masih duduk diam sembari menikmati suasana pagi dengan udara yang
begitu segar untuk ku hirup. Aku melamun sejenak, membayangkan betapa besar
kekuasaan Allah SWT.
Hari
ini kuliahku libur, dikarenakan besok akan memyambut hari raya besar bagi umat
muslim. Ada perasaan senang dan juga sedih. Karena aku harus merayakannya tanpa
kedua orang tuaku, karena jarak yang sangat jauh. Dan hanya tinggal sendirian
dikontrakan, begitu lengkap rasanya. Aku mencoba menghubungi adik kelasku waktu
itu. Untuk mengajaknya menginap dikontrakanku.
“Ega
kamu mau tidur dikontrakanku, nggak?,”
tanyaku sambil menunggu jawaban.
“Iya
deh mba, aku juga sendirian ne
dikosan yang lain pada mudik,’’ Ega pun menyetujui permintaanku.
“Ok,”
jawabku sambil tersenyum senang.
“Oo..ya
mba nanti jemput aku jam berapa?,’’ Tanya Ega padaku.
“Nanti
sore ya, habis ashar aja,” jawabku singkat, dan aku pun menutup teleponku.
Waktu
berjalan sangat cepat. Jam pun sudah menunjukkan pukul 15:30, aku pun segera
menjemput Ega. Jalanan begitu ramai ditambah dengan polusi udara yang membuatku
sulit untuk bernafas. Setibanya dikosan Ega aku mengobrol sebentar.
“Udah
lama mba nunggu?” tanyanya sedikit
cemas.
“Nggak kok, baru aja aku nyampe,” jawabku sambil memperbaiki
jilbabku.
“Gitu ya mba, ya udah sekarang langsung kekontrakan mba ne?’
“Iya,
aku males mau kemana-mana?” sambil
memakai helm dan menyalakan motorku.
Malam
terasa sepi, dikontrakan hanya ada aku dan adik kelasku. Terdengar takbir
dilantunkan dimana-mana, menyambut bahagia datangnya hari raya Idul Adha. Aku
terdiam disaat memikirkan orang tuaku yang jauh disana. Aku begitu merindukan
kedua orang tuaku. Beginilah nasib anak perantaun.
Ketika
itu Novi menghubungiku bahwa besok akan ada perkumpulan anak-anak Kobar. Itu
adalah nama kabupatenku di Kota Manis Pangkalan Bun.
“jul besok
datang yak keasrama Kobar,” katanya penuh harapan.
“Insyaallah
ya, emang ada acara apaan dan mulai
jam berapa acaranya?” kataku penuh tanya.
“Cuma kumpul-kumpul aja kok, ya merayakan hari raya bareng,
acaranya jam 10:00 a.m,” jelas Novi padaku dan berharap aku datang.
“Iya
deh besok aku usahain datang,”
“Ok. Aku
tunggu,”
Hari
semakin malam, nampak diluar sudah mulai gelap. Aku pun mengistirahatkan tubuh
ini diatas kasur. Menunggu esok hari tiba. Menantikan suasana yang nantinya
menyenangkan. Sambil membaca doa mata ini pun mulai menutup. Dan tidak terasa
aku pun terlelap.
Pagi
pun tiba, terdengar suara takbir yang menggema membuatku terbangun dari tidur
nyenyakku. Aku pun terbangun dan masih sedikit mengantuk. Aku bangkit dari
tempat tidurku, dan aku langkahkan kaki ini menuju kamar mandi.
Aku
merasakan pagi ini adalah pagi yang begitu indah, walau aku merasa sedikit
sedih. Kubuka pintu, kulihat orang-orang ramai berlalu lalang. Dengan baju
muslimah dan membawa sajadah, mereka berjalan menuju masjid.
Saat
aku duduk diantara orang-orang dan disaat aku melantunkan takbir. Air mata ini
mengalir begitu saja, seakan tak terbendung lagi. Semakin aku lantunkan semakin
aku menangis. Aku teringat akan kedua orang tua ku yang jauh disana. Aku
mencoba untuk kuat.
Ketika sholat
sudah usai, aku beristirahat sejenak bersama Ega.
“Mba jadi ke asrama putra Kobar nggak ne?” tanya Ega
“Jadi
kok, istirahat bentar dan makan dulu,” jelasku
“Ok.
Deh,”jawab Ega
Tidak
berapa lama, aku dan Ega berangkat menuju asrama putra Kobar. Kami berdua
sempat bingung mencari asramanya. Karena itu kali pertama kami berdua kesana.
Dari kejauhan aku melihat sepupuku menjemputku di perempatan. Dia menunjukkan
jalan menuju asrama, jalannya begitu rumit untuk dihafal. Akhirnya kami pun
tiba juga di asrama. Ketika aku sampai orang-orang sudah banyak berdatangan.
Mereka temanku satu daerah walaupun universitas kita berbeda-beda. Disana kita
saling berkenalan satu sama lain, saling menyapa, saling bertanya soal kuliah
dan lain-lain. Aku berbincang-bincang sebentar sebelum acara dimulai. Ada
seseorang yang bertanya padaku namanya itu Ardian.
“Namanya
siapa, alumni sekolah mana,” tanya bang Ardian.
“
Namaku Julie, aku alumni SMA Negeri 2 Pangkalan Bun,” jelasku padanya.
“Iya
kah, beda sekolah berarti kita, aku
alumni SMA Negeri 1 Pangkalan Bun, sekarang kuliah dimana, semester berapa?”
“Aku
kuliah di Universitas Ahmad Dahlan, semester 3,” jelasku sedikit deg-degan
sambil melihat dia.
“ngambil jurusan apa?” tanyanya lagi.
“jurusan
pendidikan matematika bang,” jawabku singkat.
“iya
kah, wah penuh rumus berarti,” ejeknya
“hmm..iya begitulah,” kataku sambil
tersenyum kecil.
Tiba
saatnya acara dimulai. Pertama dibuka oleh kak Indah selaku pembawa acara dan
menjelaskan urutan acaranya. Kemudian sambutan oleh bang Ardian selaku ketua. Dia menjelaskan diadakannya perkumpulan
tersebut. Sekaligus bercerita soal budaya, bahasa, bahkan sampai makanan khas
Kobar.
Waktu
itu bang Ardian tepat duduk dihadapanku. Pertama kali bertemu dia, orangnya
baik, bijaksana, dewasa, penampilannya rapi, sopan, ramah dan sholeh. Seorang
imam yang aku impikan, bukan hanya aku mungkin untuk semua wanita. Perasaanku
semakin tidak karuan tapi aku tidak menampakkan wajah yang memalukan
dihadapannya. Aku bersikap biasa-biasa saja.
Kemudian
acara tersebut diisi juga dengan ceramah tentang hari raya Idul Adha yang
dikenal dengan hari raya kurban. Tidak hanya itu, tapi juga menyinggung tentang
busana wanita menurut agama islam bahkan larangan-larangan menurut agama islam.
Setelah itu ada permainan yang dibuat oleh kak Indah dan bang Ardian yaitu
perkenalan antar dua orang. Bang Ardian pun menjelaskan caranya.
“nah aku bakal ngejelasin caranya,
perkenalannya dimulai dari ujung n’tar
kalian saling tanya sama teman yang ada dihadapan kalian, kalian bebas mau
tanya apa aja, gimana ngerti nggak??? Bang
Ardian menjelaskan dengan sangat detail.
“iya
ngerti” jawab teman-teman semua
secara bersamaan.
“ya
udah kalau gitu kita mulai aja dari
sekarang permainannya,” kata bang
Ardian sambil memulai permainannya.
Setelah
beberapa menit berselang, waktu dzuhur pun tiba. Selagi menunggu adzan selesai
kami pun beristirahat sebentar sebelum menunaikan sholat. Kemudian acara
selanjutnya yaitu makan-makan, sebelum itu bang Ardian memberitahu kami bahwa
didalam kotak makanan itu ada sedikit kejutan untuk kita. Aku merasa penasaran
kemudian aku buka ternyata berisi sebuah gantungan yang bernamakan nama
himpunan organisasi dari kabupatenku.
“nah silahkan makanannya langsung dimakan
aja,” suruh bang Ardian
“sering-sering
aja bang ngadain acara kayak gini,
biar bisa kumpul-kumpul,” celetuk bang Indra.
“iya
deh, n’tar kita cari hari lain lagi,
sekiranya pada bisa semua,” bang
Ardian pun menyetujuinya.
Kemudian
masuk dipuncak acaranya yaitu sesi bertukar pendapat atau sharing bersama.
Pertama dimulai oleh bang Ardian.
“gini aku mau sedikit sharing sama kalian
semua soal organisasi ini sebagai ketua disini. Kita kan udah ngadain banyak
acara diluar kayak pertujukan tarian, pengenalan budaya Kalimantan Tengah, sampai
makanan khas Kalteng khususnya kota angkalan Bun. Nah aku pengen kalian
ikut partisipasinya dalam organisasi ini, kalau mau kalian tinggal nulis
ditwitter buka aja IKPM Kobar n’tar kalian bisa tanya-tanya disitu
lebih jelasnya,” jelasnya sambil menunjukkan contoh kartu anggota IKPM Kobar.
“nah aku pengen tanya, setiap menjalankan organisasi kan kita butuh banyak
dana, apalagi dengan banyaknya kegiatan, nah
itu gimana solusinya,” tanya Angga.
“iya
emang benar, kami cari dananya itu
dari kita jualan misalnya soto manggala, jualan baju khas Kalteng, bahkan aksesoris
yang lain, yah itu lumayan lah buat menanggung biaya asrama
sama kegiatan-kegiatan, nggak hanya
itu kita juga punya donator,” jelasnya bang
Ardian
“tapi
kan kalau cuma kayak gitu aja hasilnya nggak
optimal,” ucap Angga dengan penuh pertanyaan.
“maka
dari itu aku butuh bantuan dan kerja sama dari kalian semua buat bantu kita
mempertahankan organisasi ini,” jelas bang
Ardian dengan penuh harap.
Setelah
saling berdebat cukup panjang, akhirnya bang Indra angkat bicara.
“gini, kita itu jangan terlalu berharap
sama donator aja. Kita bisa buat acara yang lain yang lebih menarik, beda dari
pada yang lain. Kalau mau cari dana jangan setengah-setengah. Dan jangan
terlalu mikirin banyak konsep buat ngelaksanainnya,
langsung terjun aja kelapangan, kalau menurutku gitu bah,” jelas bang Indra
sambil memberikan nasehatnya.
“iya
bang, n’tar bakal kita coba,” ucap bang Ardian.
“nah aku mau nambah lagi, kalau
kumpul-kumpul lagi. Buat acaranya lebih menarik buat suasana lebih akrab jangan
hanya diam-diam apalagi malu-malu. Kita kan
sama-sama satu daerah jadi biasa aja.
Kita kan kumpul-kumpul kayak gini biar
saling ngenal nggak canggung bah,” kata bang Indra.
“iya,
nah silahkan buat teman-teman
sekalian untuk berpendapat nggak usah
tegang santai aja, kita buat acara ini
kan biar lebih dekat lagi, kalau ada
yang sakit atau butuh bantuan bilang aja
n’tar kita usahain buat bantu,” tambah bang
Ardian.
Suasana
makin seru ditambah dengan gurauan yang dibuat oleh teman-teman, ada yang
saling mengejek, menggoda, bahkan kata-kata yang lucu pun keluar dengan bahasa
daerah kita. Rasanya menyenangkan sekali bisa berkumpul seperti ini, sudah
seperti keluarga besar. Hari sudah semakin sore bang Ardian pun menutup acara hari ini.
“berhubung
hari udah semakin sore, acaranya
cukup sampai sini aja lain kali,
besok kita buat acara kayak gini
lagi, mohon partisipasi dari teman sekalian. Terima kasih udah datang buat
meramaikan acara hari ini, maaf jika banyak kekurangannya,” kata bang Ardian sambil menutup acara.
Kemudian
bang Ardian menyuruh kita untuk foto-foto dulu sebelum pulang.
“nah sebelum pulang kita foto-foto dulu
buat kenang-kenangan,” ajak bang
Ardian
Kami
pun foto-foto sebentar sebelum pulang dengan berbagai gaya. Dan aku pun pamit
untuk pulang.
“bang aku pulang lah,” pamitku.
“iya
hati-hatilah, main-main lagi lah ke asrama,” kata bang Ardian
Sungguh
hari yang tidak akan terlupakan aku bertemu dengan banyak teman, saling
mengenal, bahkan bertemu dengan seseorang yang begitu mengagumkan buatku, walau
itu hanya sebentar saja. Walaupun hari raya kurban ini jauh dari orang tua
setidaknya aku bisa berkumpul bersama teman-teman satu daerah itu sudah lebih
dari cukup buatku.
Senin, 23 Desember 2013
Bahasa daerah Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah
BAHASA TERINGIN
Dikacau-kacau=diaduk-aduk
Dihompas=dibanting
konyang=kenyang
Buta=padam(lampu)
sontok=mepet(waktu)
Duwi=centong(sendok besar untuk mengambil nasi)
pengguringan=tempat tidur
longkang=jendela
lawang=pintu
disunduk=dikunci
pian=kamu(untuk orang yang lebih tua)
ulun=aku(untuk bicara dengan orang yang lebih tua)
honda=mau
Honda kemona?= mau kemana?
pandak=pendek
potang=gelap
potang kabu=gelap sekali
pahit ketota=pahit sekali(makanan)
Bahari=sore
teboda=cempedak(nama buah)
joring=jengkol
Tobu=tebu
susupan=tanaman putri malu
kelakai=tumbuhan paku (yang biasa untuk dimaka)
Behomba=digendong
Clorot=es kelapa muda
momat=ruput ilalang(rumput liar)
lala=kerang kecil(biasa di air tawar)
mencolang=melek(mata)
huma=sawah
hitam hiru=hitam sekali
Balu=janda
Dihompas=dibanting
konyang=kenyang
Buta=padam(lampu)
sontok=mepet(waktu)
Duwi=centong(sendok besar untuk mengambil nasi)
pengguringan=tempat tidur
longkang=jendela
lawang=pintu
disunduk=dikunci
pian=kamu(untuk orang yang lebih tua)
ulun=aku(untuk bicara dengan orang yang lebih tua)
honda=mau
Honda kemona?= mau kemana?
pandak=pendek
potang=gelap
potang kabu=gelap sekali
pahit ketota=pahit sekali(makanan)
Bahari=sore
teboda=cempedak(nama buah)
joring=jengkol
Tobu=tebu
susupan=tanaman putri malu
kelakai=tumbuhan paku (yang biasa untuk dimaka)
Behomba=digendong
Clorot=es kelapa muda
momat=ruput ilalang(rumput liar)
lala=kerang kecil(biasa di air tawar)
mencolang=melek(mata)
huma=sawah
hitam hiru=hitam sekali
Balu=janda
hingu,mehingu = memelihara
uri,diurikan = biar,dibiarkan
hongai = lelah
hundin = kalian
songki,songka = sempit
koyo = sombong
uri,diurikan = biar,dibiarkan
hongai = lelah
hundin = kalian
songki,songka = sempit
koyo = sombong
makanan khas pangkalan bun
Naik Klotok di Kalimantan, Paling Nikmat Makan Soto Singkong
Soto manggala khas Kalimantan Tengah (Vita/ detikTravel)
Pangkalan Bun - Klotok adalah perahu yang biasa dinaiki wisatawan
saat mengarungi sungai-sungai di Kalimantan. Saat naik klotok menyusuri
Sungai Sekonyer di Kalimantan Tengah, makanan paling enak adalah soto
singkong yang unik dan nikmat.
Soto singkong? Saat mendengarnya, turis yang berdomisili jauh dari Pangkalan Bun di Kalimantan Tengah mungkin akan mengerenyitkan dahi. Soto singkong adalah masakan khas daerah ini. Rasanya? Gurih nikmat. Apalagi saat disantap di atas perahu klotok yang menyusuri Sungai Sekonyer.
detikTravel mencicipi soto ini saat mengikuti kegiatan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dalam rangka Destination Management Organization (DMO) Bimtek Local Working Group (LGW) bidang SDM dan Kemasyarakatan.
"Ini namanya soto manggala, khas Pangkalan Bun," kata Yomie Kamale, pemandu wisata yang mendampingi rombongan, Senin (26/8/2013).
'Manggala' adalah sebutan untuk singkong atau ketela di Pangkalan Bun. Sebenarnya tidak terlalu berbeda dengan kebanyakan soto yang ditemui. Isi soto adalah soun, seledri, irisan telur ayam, dan wortel. Sedangkan singkong dipotong dadu seperti kentang.
Soto ini dibuat dengan campuran bumbu berupa bawang putih, merica, dan garam yang dihaluskan. Terkadang soto juga disajikan dengan potongan kaki ayam. Sebelum singkong dimasukkan ke dalam soto, dipotong dan direbus setengah matang. Rasanya gurih dan segar.
detikTravel dan rombongan menikmati hidangan ini di perahu klotok yang menyusuri Sungai Sekonyer dari muaranya yang merupakan pintu gerbang Taman Nasional Tanjung Puting menuju dermaga di Kumai. Saat itu angin terasa begitu dingin, sehingga semangkuk soto manggala terasa sangat nikmat!
Jika sedang beruntung, dari atas perahu klotok yang melaju dengan kecepatan 10 km/jam, sambil menikmati soto manggala, Anda bisa menyaksikan bekantan. Si monyet hidung panjang yang bersiap tidur di pohon-pohon sepanjang pinggir sungai.
Soto singkong? Saat mendengarnya, turis yang berdomisili jauh dari Pangkalan Bun di Kalimantan Tengah mungkin akan mengerenyitkan dahi. Soto singkong adalah masakan khas daerah ini. Rasanya? Gurih nikmat. Apalagi saat disantap di atas perahu klotok yang menyusuri Sungai Sekonyer.
detikTravel mencicipi soto ini saat mengikuti kegiatan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dalam rangka Destination Management Organization (DMO) Bimtek Local Working Group (LGW) bidang SDM dan Kemasyarakatan.
"Ini namanya soto manggala, khas Pangkalan Bun," kata Yomie Kamale, pemandu wisata yang mendampingi rombongan, Senin (26/8/2013).
'Manggala' adalah sebutan untuk singkong atau ketela di Pangkalan Bun. Sebenarnya tidak terlalu berbeda dengan kebanyakan soto yang ditemui. Isi soto adalah soun, seledri, irisan telur ayam, dan wortel. Sedangkan singkong dipotong dadu seperti kentang.
Soto ini dibuat dengan campuran bumbu berupa bawang putih, merica, dan garam yang dihaluskan. Terkadang soto juga disajikan dengan potongan kaki ayam. Sebelum singkong dimasukkan ke dalam soto, dipotong dan direbus setengah matang. Rasanya gurih dan segar.
detikTravel dan rombongan menikmati hidangan ini di perahu klotok yang menyusuri Sungai Sekonyer dari muaranya yang merupakan pintu gerbang Taman Nasional Tanjung Puting menuju dermaga di Kumai. Saat itu angin terasa begitu dingin, sehingga semangkuk soto manggala terasa sangat nikmat!
Jika sedang beruntung, dari atas perahu klotok yang melaju dengan kecepatan 10 km/jam, sambil menikmati soto manggala, Anda bisa menyaksikan bekantan. Si monyet hidung panjang yang bersiap tidur di pohon-pohon sepanjang pinggir sungai.
Langganan:
Postingan (Atom)